Jumat, 13 Februari 2009

Relevansi Metode Gramatika Terjemah Pada Pengajaran Bahasa Arab Tingkat Lanjutan

Relevansi Metode Gramatika-Tarjamah

Pada Pengajaran Bahasa Arab Tingkat Lanjutan

Oleh : Fuad Munajat, S. S.

Abstrak

Pengajaran bahasa Arab di tingkat lanjutan terutama pada PTAI masih terkendala dengan berbagai kompleks persoalan. Output pembelajaran, dalam hal ini lulusan PTAI, masih dihinggapi kenyataan minimnya penguasaan mereka terhadap bahasa Arab yang nota bene salah satu pilar terpenting dalam rangka kajian Islam. Kompleks persoalan yang meliputi masalah orientasi pengajaran bahasa Arab dan quo vadis problem linguistik serta non-linguistik, meniscayakan perlunya peninjauan kembali berbagai unsur tersebut. Kecuali itu, metode gramatika-terjemah yang selama ini menjadi idola dalam praktek pengajaran perlu ditelusuri sisi kelemahan dan kelebihannya untuk selanjutnya mencari alternatif metode dalam pengajaran bahasa Arab

Kata kunci : metode gramatika terjemah, pengajaran bahasa Arab, tingkat lanjutan

Pendahuluan

Kemampuan bahasa Arab diakui merupakan piranti kajian Islam yang sangat penting. Akan tetapi kenyataannya kemampuan bahasa Arab mahasiswa PTAIN dan PTAIS masih sangat memprihatinkan. Hal ini dapat kita lihat pada kelemahan mereka dalam memahami dan mengkaji wacana keislaman yang mayoritas sumber aslinya berbahasa Arab (www.ditpertais.net/swara). Kelemahan penguasaan bahasa Arab sebagian besar disebabkan aspek pembelajarannya yang hingga kini diliputi berbagai problematika yang menggelayutinya.

Pengajaran bahasa Arab senantiasa dihadapkan pada berbagai situasi kompleks yang pada satu sisi membutuhkan perhatian pada bagian-bagian kompleksitas secara kasuistis tetapi di sisi lain harus dilihat secara keseluruhan. Situasi kompleks dimaksud adalah adanya berbagai aspek dalam pengajaran bahasa Arab yang harus disoroti secara bersama-sama. Di antara aspek-aspek yang mempengaruhi keberhasilan pengajaran bahasa Arab adalah aspek tujuan pengajaran bahasa Arab (orientasi), aspek problematika yang dapat dirinci menjadi problematika linguistik, problematika metodologis, dan problematika sosio kultural.

Tulisan ini hanya terfokus pada problema metodologis dan lebih khusus pada salah satu metode pengajaran yang paling banyak digunakan pada pengajaran bahasa Arab di tingkat lanjutan (baca : Perguruan tinggi) yakni metode gramatika-terjemah. Pemokusan pembahasan terhadap salah satu metode pengajaran bahasa Arab tidak serta merta mengabaikan perspektif yang lebih luas.

Hal ini karena dalam perspektif makro aspek orientasi pengajaran, kendala-kendala baik linguistik maupun non-linguistik menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Dengan demikian, dalam tulisan ini secara berturut-turut dibahas orientasi pengajaran bahasa Arab, problematika pengajaran bahasa Arab, metode gramatika-terjemahan dan alternatif metode dalam pengajaran bahasa Arab tingkat lanjutan.

Orientasi pengajaran bahasa Arab

Keberhasilan proses pembelajaran bahasa Arab ditentukan salah satunya oleh sinergitas antara orientasi pengajaran dengan kompleks variabel penentu yang lain. Pengajaran bahasa Arab pada dasarnya diorientasikan pada empat hal (Hidayat : 2001) antara lain sebagai berikut.

1. Berorientasi kepada tujuan PTAI

Khusus bagi mahasiswa S1 paling tidak diharapkan agar mampu memahami kitab-kitab Arab yang digunakan dalam tatap muka dan buku-buku maraji’ sesuai dengan jurusan dan fakultasnya masing-masing. Adapun tujuan pengajaran bahasa Arab yang bersifat umum adalah :

  1. Untuk digunakan sebagai alat komunikasi
  2. Untuk digunakan sebagai alat pembantu keahlian lain (supplementary)
  3. Untuk membina ahli bahasa Arab
  4. Untuk digunakan sebagai alat pembantu teknik (vokasional)

2. Berorientasi kepada karakteristik bahasa Arab

Sebagai salah satu rumpun bahasa semit, bahasa Arab memiliki karakteristik yang sangat berbeda dengan bahasa Indonesia atau bahasa-bahasa lain di luar bahasa-bahasa yang serumpun dengan bahasa Arab. Perbedaan karakter tersebut tentu saja melahirkan problem-problem dalam pengajarannya. Di antara karakteristik bahasa Arab adalah sebagai berikut :

  1. memiliki kosa kata (mufradat) yang sangat banyak disamping adanya kata-kata yang sinonim (mutaradif)
  2. memiliki sistem derivasi yang khas dan dikenal dengan istilah isytiqaq
  3. memiliki sistem i’rab (perubahan akhir kata)
  4. memiliki sistem gramatika
  5. bahasa Arab mengharuskan pemahaman terlebih dahulu sebelum membacanya (terkait dengan kemahiran membaca). Dengan kalimat lain “seseorang harus lebih dahulu mengetahui konteks sebelum membaca teks”.

3. Berorientasi kepada peserta didik

Pada umumnya mahasiswa PTAI berasal dari pesantren-pesantren atau sekolah Menengah Umum Islam (Madrasah Aliyah). Oleh karena itu sebagian besar sudah memiliki dasar pengetahuan bahasa Arab. Dalam pengajarannya tidak diperlukan lagi pemberian pengetahuan bahasa Arab dari nol. Meskipun demikian secara individual kemampuan dasar mereka berbeda-beda sehingga perlu diadakan placement test.

4. Berorientasi kepada hakikat pembelajaran bahasa

Berdasarkan empat orientasi tersebut tampak adanya pendekatan maupun metode pengajaran yang seharusnya berbeda antara satu orientasi dengan orientasi yang lainnya. Pengajaran bahasa Arab pada tingkat lanjutan juga niscaya mempertimbangkan orientasi-orientasi tersebut.

Bagi mahasiswa pada fakultas Adab orientasi pengajarannya tentu berbeda dengan mahasiswa tingkat lanjutan dari fakultas non-Adab. Sebagai ilustrasi mahasiswa fakultas Adab memiliki orientasi pembelajaran bahasa Arab untuk menjadi ahli bahasa Arab. Lain halnya dengan mahasiswa fakultas lain yang diorientasikan untuk digunakan sebagai alat pembantu keahlian lain (supplementary) atau sebagai alat pembantu teknik (vokasional).

Problematika pengajaran bahasa Arab di Indonesia

Problematika pengajaran bahasa Arab di Indonesia pada dasarnya dapat dipilah ke dalam dua kategori besar yakni problem linguistik dan problem non-lingustik yang dapat diperinci lagi menjadi problem metodologis dan problem sosiologis (Lihat Umam, 1999 : 5-11, bdk. Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga : 61-76, selanjutnya disebut Pokja).

1) Problematika linguistik

Problematika linguistik merupakan hambatan yang terjadi dalam pengajaran bahasa Arab yang disebabkan perbedaan karakteristik internal linguistik bahasa Arab itu sendiri dibandingkan dengan bahasa Indonesia. Di antara karakter universal bahasa Arab sebagaimana bahasa-bahasa yang lain adalah sebagai berikut

  1. Bahasa Arab memiliki gaya bahasa yang beragam
  2. Bahasa Arab dapat diekspresikan baik secara lisan maupun tulisan
  3. Bahasa Arab memiliki sistem, dan aturannya yang spesifik
  4. Bahasa Arab memiliki sifat yang arbitrer
  5. Bahasa Arab selalu berkembang, produktif dan kreatif

Kecuali itu, bahasa Arab juga memiliki karakteristik yang spesifik dan hanya dimilikinya. Karakter tersebut khas terdapat pada bahasa Arab di antaranya adalah

  1. Bahasa Arab memiliki sistem bunyi yang khas
  2. Bahasa Arab memiliki sistem tulisan yang khas
  3. Bahasa Arab memiliki struktur kata yang bisa berubah dan berproduksi
  4. Bahasa Arab memiliki sistem I'rab
  5. Bahasa Arab sangat menekankan konformitas antar unsurnya
  6. Bahasa Arab memiliki makna kiasan yang sangat kaya
  7. Makna kosa kata bahasa Arab sering berbeda antara makna kamus dengan makna yang dikehendaki dalam konteks kalimat tertentu

2) Problem metodologis

  1. Problem tujuan; tujuan pengajaran bahasa Arab baik pada tingkat dasar, menengah maupun lanjutan sebagaimana tercantum dalam kurikulum masing-masing biasanya mencantumkan tujuan yang kelewat ideal. Tujuan tersebut mengeksplisitkan penguasaan siswa/mahasiswa _yang ironisnya belum pernah tercapai_ terhadap empat ketrampilan dasar berbahasa
  2. Problem materi kurikulum; problem ini merupakan salah satu pendukung kegagalan tujuan pengajaran karena materi kurikulum tidak mencerminkan penjabaran dari tujuan yang ditetapkan.
  3. Problem alokasi waktu; perguruan tinggi hanya menyediakan 6 Sks bagi seluruh mahasiswa PTAI hal mana jauh dari mencukupi
  4. Problem tenaga pengajar; kualifikasi pengajar bahasa Arab di PTAI masih belum memadai. Sebagian besar diisi oleh tamatan S1 Bahasa dan Sastra Arab (BSA) atau Pendidikan Bahasa Arab (PBA) dan lulusan Timur Tengah yang sebagian besar bukan membidangi bahasa Arab meskipun ada yang memiliki core competence bahasa Arab.
  5. Problem siswa/ mahasiswa; input mahasiswa PTAI masih didominasi lulusan Madrasah Aliyah (MA) dan SMU sederajat yang masih memerlukan perhatian khusus
  6. Problem metode; metode pengajaran bahasa Arab pada dasarnya telah berkembang pesat tetapi praktik di lapangan menunjukkan belum adanya progres yang berarti.
  7. Problem media pengajaran; aspek ini masih merupakan aspek yang paling tertinggal dibandingkan negara lain.
  8. Problem evaluasi pembelajaran; penekanan pada pengukuran sisi kognitif siswa masih dominan (Lihat Pokja : 61-76).

3) Problem sosiologis

  1. Kebijakan politik bahasa pemerintah
  2. Sikap masyarakat terhadap kedudukan bahasa Arab
  3. Lingkungan sekitar.

Dengan demikian kendala-kendala ini muncul antara lain akibat perbedaan-perbedaan baik dari karakteristik bahasa asing itu sendiri maupun latar belakang budaya. Sebagai contoh ungkapan sabaqa as-sayfu al-'adzala dalam bahasa Arab tidak dapat diartikan secara harfiah sebagai 'pedang telah mendahului celaan' tetapi lebih tepat diartikan sebagai 'nasi sudah menjadi bubur'. Hal ini mengingat adanya perbedaan sosio-kultural antara bangsa Arab yang kerap melakukan perburuan atau penggunaan pedang dengan bangsa Indonesia yang tidak demikian. (Umam,1999 : 11).

Oleh karena itu dibutuhkan upaya-upaya yang cukup keras untuk memecahkan problema tersebut. Khusus di lingkungan PTAI, masih terlihat adanya kesenjangan antara tujuan (visi dan misi pengajaran bahasa Arab) dengan kenyataan di lapangan. Diakui bahwa sebagian besar mahasiswa PTAI belum memiliki kemampuan berbahasa Arab sebagaimana diharapkan.

Berbagai metode dan pendekatan dalam pengajaran bahasa Arab seperti metode terjemah-gramatika (Grammar-translation method), metode langsung (Direct method), metode mim-mem (Mim-mem method) dan pendekatan baik behavioristik, mentalistik, komunikatif pada akhirnya hanya dapat diterapkan pada kondisi dan situasi yang sesuai. Tentu saja hal ini masih ditambah dengan pertimbangan orientasi yang ingin dicapai dalam pelaksanaan pengajaran bahasa Arab tersebut.

Khusus metode gramatika-terjemah akan dibicarakan sebentar lagi karena metode ini masih digunakan secara intensif oleh lembaga-lembaga pengajaran bahasa Arab tingkat lanjutan secara umum dan perguruan tinggi secara khusus. Pembicaraan difokuskan pada hakikat metode gramatika-terjemah, kelebihan dan kelemahannya, penelusuran terhadap potensinya sehingga dapat bertahan sebagai metode yang mapan serta kemungkinan pengembangannya dalam arti penggabungannya dengan metode lain dalam memenuhi fungsinya.

Metode Gramatika-Terjemah (Thariqah Al-Qawa'id wa At-Tarjamah)

Pada dasarnya metode gramatika-terjemah merupakan metode yang menekankan pada pemahaman tata bahasa untuk mencapai ketrampilan membaca, menulis dan menerjemah (Radliyah Zaenuddin, dkk., 2005 : 37-38). Metode gramatika terjemah ini merupakan kombinasi metode gramatika dan metode terjemah (Sumardi, 1975 : 37) yakni yang memulai cara pengajaran dengan menghafal aturan-aturan tata bahasa (rule of grammar) kemudian menyusun daftar kata dan menerjemahkan kalimat demi kalimat yang terdapat dalam wacana atau bahan bacaan (Team Penyusun, 1975 : 194).

Metode ini bersandarkan pada suatu asumsi, bahwa logika semesta merupakan dasar semua bahasa di dunia dan tata bahasa, dalam pandangan metode ini, adalah bagian dari filsafat dan logika tersebut. Belajar bahasa dengan demikian dapat memperkuat kemampuan berpikir logis dan memecahkan masalah. Para peserta didik didorong untuk menghafal teks-teks klasik berbahasa asing dan terjemahannya, terutama teks yang bernilai sastra tinggi, sehingga diharapkan dapat menghasilkan output yang berbudaya tinggi dan memiliki daya intelegensia yang terlatih dalam memahami teks-teks klasik, walaupun dalam teks itu seringkali terdapat struktur kalimat yang rumit dan kosa kata atau ungkapan yang sudah tidak terpakai lagi.

Di antara ciri-ciri khas metode ini adalah (1) Perhatian yang mendalam pada ketrampilan membaca, menulis dan menerjemah, kurang memperhatiakan aspek menyimak dan berbicara. (2) Menggunakan bahasa Ibu sebagai bahasa pengantar dalam kegiatan belajar mengajar, (3) Memperhatikan hukum-hukum nahwu, (4) Basis pembelajarannya adalah penghafalan kaidah tata bahasa dan kosa kata, kemudian penerjemahan secara harfiah dari bahasa target ke bahasa pelajar dan sebaliknya, dan (5) Peran pendidik dalam proses belajar mengajar lebih aktif daripada peserta didik yang senantiasa menerima materi secara pasif.

Metode ini sering menerima kritik karena tidak memperdalam bahasa sebagai sebuah ketrampilan, karena ia melalaikan ketrampilan bicara dan menyimak. Namun ia tetap bernilai sebagai metode, tergantung pada penekanan dari tujuan pembelajarannya sendiri (baca : orientasi).

Di antara kelebihan dari metode ini adalah ia dapat memperkuat kemampuan para peserta didik dalam mengingat, sehingga mereka dapat menguasai dalam arti hafal di luar kepala kaidah-kaidah tata bahasa, karakteristiknya, serta isi detail bahan bacaan yang dipelajarinya. Di samping tentu saja metode ini dapat dilaksanakan dalam kelas besar dan tidak menuntut interaksi aktif dari peserta didik (Radliyah Zaenuddin, dkk., 2005 : 37-38).

Asal usul metode ini dapat dirujuk ke abad pertengahan (abad ke-15) ketika banyak sekolah dan universitas di Eropa mengharuskan siswanya mempelajari bahasa Latin guna mempelajari teks-teks klasik. Namun nama metode ini baru dikenal pada abad ke-19. Metode ini juga banyak digunakan untuk pengajaran bahasa Arab, baik di negara-negara Arab sendiri maupun di negara-negara Islam termasuk Indonesia.

Dengan demikian dapat disebutkan bahwa metode ini mempunyai beberapa karakteristik antara lain

1) Mempelajari bahasa asing bertujuan agar seseorang mampu membaca buku atau naskah dalam bahasa target, seperti kitab-kitab klasik berbahasa Arab.

2) Materi pelajaran terdiri atas buku tata bahasa, kamus dan teks bacaan yang berupa karya sastra klasik atau kitab keagamaan klasik.

3) Tata bahasa disajikan secara deduktif, yakni dimulai dengan penyajian kaidah diikuti dengan contoh-contoh.

4) Kosa kata diajarkan dalam bentuk kamus dwibahasa, atau daftar kosa kata beserta terjemahannya.

5) Proses pembelajarannya sangat menekankan penghafalan kaidah bahasa dan kosa kata, kemudian penerjemahan harfiah dari bahasa sasaran ke bahasa siswa atau sebaliknya.

6) Bahasa ibu digunakan sebagai bahasa pengantar.

7) Peran guru sangat aktif sebagai penyaji materi, sementara siswa berperan pasif sebagai penerima materi.

Di antara kelebihan metode ini adalah

1) Siswa menguasai dalam arti menghafal di luar kepala kaidah atau tata bahasa dari bahasa yang dipelajarinya.

2) Siswa memahami bahan bacaan yang dipelajarinya secara mendetail dan mampu menerjemahkannya.

3) Siswa memahami karakteristik bahasa sasaran secara teoretis dan dapat membandingkannya dengan karakteristik bahasanya sendiri.

4) Metode ini memperkuat kemampuan siswa dalam mengingat dan menghafal.

5) Metode ini bisa diterapkan dalam kelas besar dan tidak menuntut kemampuan guru yang ideal.

Sedangkan kelemahan metode ini antara lain

1) Metode ini lebih banyak mengajarkan tentang bahasa bukan mengajarkan kemahiran berbahasa.

2) Metode ini hanya menekankan kemahiran membaca, sedangkan tiga kemahiran bahasa yang lain diabaikan.

3) Terjemahan harfiah sering mengacaukan makna kalimat dalam konteks yang luas, dan hasil terjemahannya tidak lazim dalam citarasa bahasa ibu.

4) Siswa hanya mengenal satu ragam bahasa sasaran, yaitu ragam bahasa tulis klasik, sedangkan ragam bahasa tulis modern dan bahasa percakapan tidak diketahui.

5) Kosa kata, struktur dan ungkapan yang dipelajari siswa mungkin sudah tidak terpakai lagi atau dipakai dalam arti yang berbeda dalam bahasa modern.

6) Disebabkan otak siswa dipenuhi dengan qawa'id, maka tidak tersisa lagi tempat untuk ekspresi dan kreasi bahasa. (Pokja, 2006 : 100-2).

Meskipun terdapat beberapa kelemahan mendasar yang inheren dalamnya, metode ini dianggap masih cocok digunakan terutama bagi pelajar tingkat lanjutan yang telah memiliki bekal yang cukup dari tingkat sebelumnya (dasar dan menengah).

Alternatif pengembangan metode gramatika-tarjamah

Metode gramatika-terjemah dengan segala kelebihan dan kekurangannya masih menjadi pilihan utama sebagian besar pengajar bahasa Arab. Hal ini perlu dicermati secara seksama mengingat sebagaimana informasi Swara ditpertais yang mensinyalir pengajaran bahasa Arab di perguruan tinggi Islam (PTAIN dan PTAIS) telah gagal.

Secara tidak langsung kegagalan tersebut juga dapat ditimpakan kepada metode yang selama ini digunakan secara intensif yakni metode gramatika-terjemah. Permasalahannya bukan terdapat pada hakikat metode gramatika-terjemah itu sendiri tetapi lebih disebabkan belum adanya sinergitas antara orientasi, quo vadis problematika dan metode yang digunakan. Sinergitas menjadi kata kunci dalam persoalan ini. Ketidakhadirannya meniscayakan kekurangan pada salah satu bahkan keseluruhan penopang keberhasilan pengajaran bahasa Arab.

Kemungkinan penggabungan metode gramatika-terjemah dengan metode lain menjadi suatu hal yang niscaya. Hal ini karena dalam pembelajaran bahasa Arab para pengajar tidak mesti berpegang teguh pada satu metode, tetapi mereka lebih memilih metode yang relevan yang sesuai dengan sifat materi yang diajarkan. Metode yang dapat digunakan sebagai pelengkap dari metode gramatika-terjemah, adalah metode langsung (direct method) (www.ditpertais.net/swara).

Pemilihan metode langsung (direct method) sebagai pelengkap _atau secara bergantian sebagai metode pokok dilihat dari orientasi pengajarannya_ didasarkan pertimbangan kelemahan metode gramatika-terjemah yang terlalu mengabaikan sisi ketrampilan yang salah satunya dapat dipenuhi metode langsung (direct method).

Dengan demikian seorang pengajar masih dapat mempertimbangkan penggunaan metode gramatika-terjemah yang divariasikan dengan metode langsung. Dalam hai ini ada beberapa alasan masih dimungkinkannya penggunaan metode gramatika-terjemah. Alasan tersebut sebagai berikut

(1) Berdasarkan kenyataan di lapangan bahwa rasio mahasiswa : dosen pada sebagian besar PTAI masih belum ideal. Konsekuensinya kelas besar menjadi sebuah keniscayaan,

(2) Jumlah Sks yang diperuntukan pada seluruh fakultas atau jurusan hanya 6 Sks. Jumlah tersebut masih jauh dari cukup jika dibandingkan tujuan ideal pengajaran yang menghendaki pengusaan empat ketrampilan berbahasa mendengar, berbicara, membaca dan menulis.

(3) Input mahasiswa yang beraneka ragam menyulitkan penentuan metode pengajarannya. Dalam hal ini placement test mungkin dapat mengisi celah tersebut tetapi metode lain di luar metode gramatika-terjemah membutuhkan homogenitas kelas hal mana dapat diantisipasi metode gramatika-terjemah dengan sedikit modifikasi materi ajar.

(4) Pemaduan metode gramatika-terjemah dengan metode langsung akan menutupi kelemahan metode gramatika-terjemah dalam pemenuhan 4 kemahiran berbahasa.

Keempat argumen di atas dapat dijadikan penguat dalam pemilihan metode gramatika-terjemah yang divariasikan bersama metode langsung dengan catatan pengajaran di tingkat lanjutan tetap memperhatikan orientasi yang dituju.

Referensi

Hidayat, H.D., “Visi, Misi dan Orientasi Pengajaran Bahasa Arab di IAIN, dalam majalah Didaktika Keislaman vol. 3 No. 6, Mei 2001

Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, Yogyakarta, 2006

Radliyah Zaenuddin, Metodologi dan Strategi Alternatif Pembelajaran Bahasa Arab, Pustaka Rihlah Group, Cirebon, 2005

Sumardi, Muljanto, Pengajaran Bahasa Asing; Sebuah Tinjauan dari Segi Metodologi, Bulan Bintang, Jakarta, cet ke-2, 1975

Team Penyusun Buku Pedoman Bahasa Arab Dirjen Bimas Islam, Pedoman Pengajaran Bahasa Arab pada Perguruan Tinggi Agama Islam/IAIN, Jakarta, 1976

Umam, Chatibul, “Problematika Pengajaran Bahasa Arab di Indonesia,” dalam majalah Al-Turas, No. 08, Fak. Adab IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, 1999

"Laporan Dari Universitas Leipzig Jerman", www.ditpertais.net/swara, diunduh pada 9 Nopember 2008

OTOBIOGRAFI

Nama : Fuad Munajat, S.S.

NIP :150370789

Tempat.. tanggal lahir : Tangerang, 11 Juni 1980

Pekerjaan : Dosen STAIN Kudus

Alamat Rumah : Jl. Sunan Giri Pd. Pucung Kr. Tengah Tangerang Banten HP 081575720604

Riwayat pendidikan

- S I /Fak. Adab dan Humaniora Jur. Bahasa dan Sastra Arab UIN Jakarta 2003

- S2/ Kajian Timur Tengah Minat Bahasa, Sastra dan Budaya Arab, dalam proses penyelesaian.

Karya Tulis

- "Sastra Islami, Memberi Tauladan Tanpa Menggurui", Radar Kudus, 2007.

- "Filologi Dan Khazanah Pengetahuan Keislaman", Jurnal Addin, 2007.

- Wacana Islam Kritis dalam Teks Hikayat Muhammad Mukabil; Kajian Filologis dan Analisis Semiotik, Laporan Hasil Penelitian Individual DIPA 2008

Koentjaraningrat dan Teori Kebudayaannya

Koentjaraningrat dan Teori Kebudayaannya

Oleh : Fuad Munajat

Menelusuri teori kebudayaan Koentjaraningrat tentu sama sulitnya dengan menelusuri 'kebudayaan' itu sendiri. Hal ini disebabkan banyaknya definisi kebudayaan sebagaimana nukilan Koentjaraningrat yang menyebut angka 160 buah definisi kebudayaan pernah dikumpulkan Kroeber dan C. Kluckhohn (Koentjaraningrat, 1985 : 181) di samping betapa luas dan banyaknya karya yang telah dihasilkan Koentjaraningrat. Tulisan ini berupaya memotret karakteristik teori kebudayaan Koentjaraningrat sebagaimana tercermin dari karya-karya Koentjaraningrat.

Karakter Eklektik

Sebagai seorang pelopor kajian antropologi di Indonesia, Koentjaraningrat menampilkan karya-karyanya yang meliputi berbagai segi antropologi dan berperan sebagai pembuka jalan bagi generasi setelahnya. Dalam sebuah pengantar karya kompilasinya dengan beberapa penulis, Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, Koentjaraningrat menyatakan bahwa upaya tersebut (penyusunan buku tersebut melalui sebuah proyek) merupakan "…salah satu tugas dari generasi pertama dosen ilmu antropologi di Indonesia sekarang, dalam rangka menstabilisasi pendidikan ilmu antropologi di Indonesia" (Koentjaraningrat, 1979 : VII, keterangan di dalam dua tanda kurung berasal dari penulis).

Keluasan materi antropologi yang disuguhkan Koentjaraningrat dapat dilihat dari judul-judul[1] tulisannya yang memang meliputi kawasan yang sangat luas mulai dari tataran teoretis hingga tataran praktis.

Adapun mengenai karakter eklektik sebagaimana menjadi sub-judul tulisan ini bukan dikenakan dalam arti yang negatif tetapi sebaliknya justru karakter ini yang menjadi sifat yang sangat berguna dan tentu saja positif. Eklektik dalam hal ini diartikan sebagai upaya menghimpun beragam pandangan dan menjadikannya sebagai pandangan baru yang sintetis. Karakter semacam ini dapat ditelusuri dari pernyataan-pernyataan Koentjaraningrat yang dengan jelas menyatakan hal itu. Koentjaraningrat setelah menyebutkan fase-fase perkembangan ilmu antropologi dan keberadaannya pada masa kini (1985) menyatakan

"Menurut hemat saya, kita dapat dengan mudah mengombinasikan berbagai unsur dari berbagai aliran ilmu antropologi yang telah berkembang di negara-negara lain. Konsepsi mengenai luas dari batas-batas lapangan penelitian antropologi serta seluruh integrasi luas dari metode-metode antropologi, dapat kita contoh dari Amerika; penggunaan antropologi sebagai suatu ilmu praktis untuk mengumpulkan data tentang kehidupan masyarakat dan kebudayaan dari berbagai suku bangsa yang berbeda-beda yang kemudian kita pamerkan sehingga dengan demikian timbul suatu saling pengertian antara berbagai suku bangsa itu, dapat kita contoh dari Uni Soviet; " (Koentjaraningrat, 1985 : 9-10).

Tampak dari kutipan di atas upaya Koentjaraningrat _untuk mengombinasikan berbagai aliran antropologi dan tidak segan mencontoh penerapan-penerapan metode antropologi yang telah dilakukan negara lain_ mengindikasikan sikap eklektis. Dalam hal ini terlihat keterbukaan Koentjaraningrat dan sikapnya yang tidak fanatik terhadap salah satu aliran. Kecuali itu, Koentjaraningrat dalam memperlakukan aliran-aliran antropologi itu dapat dikatakan bersifat pragmatis.

Demikian halnya dalam pendefinisian kebudayaan yang dinyatakannya sebagai "keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar" (Koentjaraningrat, 1985 : 180). Definisi tersebut jika ditelusuri lebih jauh mempertimbangkan arah-arahan yang disampaikan Kroeber dan Talcott Parson yang menginginkan pembedaan secara tegas antara sisi gagasan dan sisi tindakan dalam kebudayaan (Koentjaraningrat, 1985 : 186).

Koentjaraningrat sendiri menyebut dirinya bersepakat dengan J.J. Honigmann (Koentjaraningrat, ibid) ketika yang disebut terakhir membedakan tiga gejala kebudayaan yakni ideas, activities dan artifact. Ketiga gejala kebudayaan ini jika diperhatikan sejajar dengan tiga wujud kebudayaan sebagaimana tercantum dalam definisi kebudayaan Koentjaraningrat. Ideas (gagasan-gagasan) sejajar dengan sistem gagasan, activities (aktivitas) sejajar dengan tindakan, dan terakhir artifact yang seanalog dengan hasil karya manusia.

Sikap eklektik tentu sangat berguna bagi seseorang yang berperan sebagai pembuka jalan antropologi di Indonesia karena sikap yang demikian memperbesar pemasukan khazanah antropologi di Indonesia tanpa terjebak dalam fanatisme aliran tertentu.

Penggunaan metode komparatif yang dominan

Dalam keseluruhan tulisannya _baik yang ditulis secara tunggal maupun kompilasi dengan beberapa penulis lain_ terlihat sebuah garis yang sangat kentara perihal perspektif yang digunakan Koentjaraningrat. Dalam bukunya Manusia dan Kebudayaan Indonesia, Koentjaraningrat membuat tipe-tipe masyarakat atau dalam istilahnya "tipe-tipe sosial-budaya" yang mengklasifikasikan masyarakat Indonesia ke dalam kelompok-kelompok tersebut. Koentjaraningrat menyebut adanya 6 tipe mulai dari masyarakat berdasarkan sistem berkebun yang sederhana, bercocok tanam di sawah, bercocok tanam di sawah tetapi dengan diferensiasi dan stratifikasi yang sedang, hingga masyarakat perkotaan bahkan metropolitan dengan ciri-ciri yang kompleks (Koentjaraningrat, 1979 : 32-33).

Gambaran pembuatan tipe-tipe sosial-budaya tersebut mengindikasikan perspektif yang klasifikatif dan tentu saja mengarah pada perbandingan untuk mencari kesamaan-kesamaan dan perbedaan yang ada dalam masyarakat Indonesia. Sebagai hasil dari perspektif semacam itu Koentjaraningrat mendapatkan gambaran masyarakat Indonesia mulai dari tipe yang paling sederhana atau agak terisolasi seperti kebudayaan Mentawai dan penduduk Pantai Utara Irian Jaya hingga yang masuk dalam kategori metropolitan yang terdapat pada kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Semarang, Medan dan lain sebagainya (Koentjaraningrat,1979 : 33).

Hal yang sama juga terlihat dalam tulisan Koentjaraningrat, Masalah Kesukubangsaan dan Integrasi Nasional. Dalam buku yang disunting Meutia F. Swasono tersebut Koentjaraningrat mengkaji diversitas suku bangsa diberbagai negara seperti Indonesia, India, Belgia dan Yugoslavia. Kajian semisal ini memang ditujukan untuk mencari konsep ideal kebudayaan nasional dan menemukan solusi permasalahan yang mungkin dialami bangsa Indonesia. Secara eksplisit Koentjaraningrat menyatakan

"Studi perbandingan mengenai masalah dan diversitas etnik serta kesatuan nasional di Indonesia dan India antara lain telah memberikan wawasan kepada kita bahwa identitas suku bangsa merupakan suatu unsur yang dinamik dan situasional, daripada suatu unsur budaya yang "primordial", sebagaimana yang ditunjukan oleh banyak ahli ilmu sosial. Kesukubangsaan bahkan bahasa dan agama bisa diintensifkan, namun bisa juga berubah dalam satu jangka waktu hidup seseorang, atau pada generasi berikutnya. Hanya identitas ras dan kasta yang tidak berubah selama masa hidup individu, sedangkan ciri-ciri ras tetap berlangsung selama beberapa generasi keturunan. Demikian hanya kedua unsur yang tersbut terakhirlah yang sebenarnya merupakan ciri primordial" (Koentjaraningrat, 1993 :49-50).

Kesimpulan Koentjaraningrat yang terletak pada bagian akhir pembahasan tentang Kebudayaan Nasional India setelah diuraikan Kebudayaan Nasional Indonesia dilengkapi dengan data-data statistik terbaru mengindikasikan betapa metode komparatif memang sangat ditekankan Koentjaraningrat.

Secara eksplisit Koentjaraningrat mengutip pendapat Gopala Sarana yang membagi penelitian komparatif dalam antropologi menjadi empat macam (1) penelitian komparatif dengan tujuan menyusun sejarah kebudayaan manusia secara inferensial; (2) penelitian komparatif untuk menggambarkan suatu proses perubahan kebudayaan; (3) penelitian konparatif untuk taksonomi kebudayaan; dan (4) penelitian komparatif untuk menguji korelasi dan memantapkan generalisasi (Koentjaraningrat, 1990 : 3). Secara eksplisit pula Koentjaraningrat mengakui sebagai pendukung yang menganggap taksonomi kebudayaan sebagai suatu hal yang sangat penting (lihat Koentharaningrat, 1990 : 10).

Hal ini tentu menguatkan pandangan Pak Heddy Ahimsa yang telah membuktikan Antrop-Koen sebagai bersifat positivistis dengan menyebutkan salah satu asumsi dasar yang ditemukan dalam karya-karya Koentjaraningrat "…harus dapat menghasilkan rumusan-rumusan yang mendekati "hukum" atau merumuskan dalil-dalil mengenai relasi yang mantap antar berbagai unsur kebudayaan atau relasi-relasi antara gejala sosial-budaya satu dengan yang lain. Ini dapat dicapai bilamana prosedur-prosedur ilmiah seperti yang terdapat dalam ilmu-ilmu eksak diikuti dengan seksama, mulai dari proses pengamatan, pendeskripsian, klasifikasi, generalisasi, hingga verifikasi" (Heddy Ahimsa, 1997 : 47, asumsi huruf e).

Kecuali itu Koentjaraningrat juga pernah menerbitkan buku, Atlas Etnografi Sedunia yang memuat beragam informasi mengenai ras-ras manusia seduania. Tentu saja penyusunan buku tersebut menggunakan metode komparasi dengan terlebih dahulu membuat klasifikasi-klasifikasi menurut kategori tertentu. Koentjaraningrat menyatakan

"Percontohan etnografi sedunia, perlu di dalam menjalankan analisis komparatif dan perbandingan bahan-bahan etnografi secara menjangkau-dunia, secara world wide. Metode-metode membandingkan dari unsur-unsur dari suatu kebudayaan dengan unsur-unsur itu juga dalam sebanyak mungkin kebudayaan lain, memang merupakan suatu metode dasar dari ilmu antropologi dan telah dilakukan oleh ahli-ahli antropologi sejak permulaan adanya ilmu antropologi itu" (Koentjaraningrat, 1969 :107, ejaan disempurnakan oleh penulis)

Dengan demikian tampak bahwa pendekatan komparatif memang menjadi semacam trade mark karya-karya antropologis Koentjaraningrat. Melalui pendekatan itu Koentjaraningrat berupaya menemukan ciri-ciri umum kebudayaan dan meneruskannya kepada perumusan-perumusan dalil yang berguna bagi pemecahan masalah-masalah sosial-budaya. Dalam hal ini saya tidak terlalu sepakat _meskipun indikasinya jelas_memasukkan teori kebudayaan Koentjaraningrat sebagai berparadigma positivistis karena pada dasarnya Koentjaraningrat tidak secara tegas menyatakannya dan ditambah keyakinannya bahwa metode komparatif hanyalah tahap lanjutan dari pendekatan ideografis.

Orientasi Nasionalistik

Belum lama ini_tepatnya bulan Pebruari 2008_ terdengar kabar kemerdekaan Kosovo dari negara Serbia. Negara yang disebut terakhirpun merupakan negara pecahan Yugoslavia yang terkoyak kesatuannya setelah kejatuhan pemimpin "diktator"nya Tito (1892-1980). Kemerdekaan yang hingga kini belum diakui oleh keseluruhan komunitas internasional ini menjadi contoh bagi negara-negara dengan diversitas suku bangsa yang tinggi termasuk Indonesia.

Koentjaraningrat sebagai pelopor antropologi Indonesia sudah sejak lama mengupayakan kajian mengenai diversitas suku-suku bangsa baik di Indonesia maupun di negara-negara lainnya. Yugoslavia adalah salah satu negara yang pernah dikajinya dalam kapasitasnya sebagai negara multi-etnik yang dirundung perang etnik berkepanjangan. Mengenai masalah Yugoslavia Koentjaraningrat menyatakan

"Kasus Belgia dan Yugoslavia telah menunjukkan kepada kita nahwa suatu sejarah nasional yang utuh memperkuat solidaritas nasional di antara golongan-golongan etnik yang merupakan bagian-bagian dan telah menunjukkan bahwa negara-negara pluralistik yang tidak memiliki sejarah nasional yang panjang, sulit mengembangkan mengembangkan integrasi nasional" (Koentjaraningrat, 1993 : 55).

Indonesia sebagai negara dengan keragaman budaya dan komposisi penduduk yang multi etnik dihadapkan pada persolan-persoalan yang tipikal dengan apa yang dialami Belgia dan Yugoslavia. Koentjaraningrat yang sejak lama menaruh perhatian terhadap masalah ini dalam setiap kajiannya senantiasa mengupayakan sisi manfaat dari kajian-kajiannya itu untuk mencari format ideal bagi nasionalisme bangsa Indonesia. Hal tersebut tampak, misalnya, dalam karyanya Manusia dan Kebudayaan di Indonesia di mana Koentjaraningrat berupaya melakukan suatu seleksi dari 15 kebudayaan yang menurutnya hanya sebagai sample dari keragaman yang sesungguhnya. Tujuan dari kajian tersebut tidak lain adalah, "…mencapai pengertian tentang sebanyak mungkin aneka warna manusia dan kebudayaan Indonesia" (Koentjaraningrat, 1979 : 31).

Dalam karya lainnya, Pengantar Ilmu Antropologi, Koentjaraningrat menyatakan kegunaan antropologi sebagai ilmu praktis dalam kutipan berikut ini

"…penggunaan antropologi sebagai ilmu praktis untuk mengumpulkan data tentang kebudayaan-kebudayaan daerah dan masyarakat pedesaan sehingga dengan demikian dapat diketemukan dasar-dasar bagi suatu kebudayaan nasional yang mempunyai suatu kepribadian yang khusus" (Koentjaraningrat, 1985 : 10).

Tidak berlebihan kalau Saefuddin (Saefuddin, 2005 :364-5) menyatakan bahwa Koentjaraningrat sangat berjasa dalam mengintrodusir kajian antropologi yang berorientasi integrasi nasional yang memang menjadi kebutuhan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang kaya dengan keragaman budaya. Namun demikian, masih menurut Saefuddin, Koentjaraningrat tetap mewanti-wanti kemungkinan negatif dari keragaman etnik yang dapat memecah persatuan nasional.

Tampak dari uraian di atas suatu karakter yang cukup kentara dari teori kebudayaan Koentjaraningrat sebagaimana tercermin dalam karya-karyanya adalah orientasinya yang nasionalistik. Koentjaraningrat memahami benar bagaimana karakter bangsa Indonesia yang multi-etnik yang kalau dikelola secara baik dapat menjadi modal bangsa potensial dalam membangun negeri ini tetapi bila yang terjadi sebaliknya maka kejadian seperti yang dialami Yugoslavia dapat terulang di sini.

Daftar Pustaka

Ahimsa-Putra, Heddy Shri, "Antropologi Koentjaraningrat, Sebuah tafsir Epistemologis" dalam E.K.M. Masinambow (Ed.) Koentjaraningrat dan Antropologi di Indonesia, AAI-Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 1997

Saefuddin, Achmad Fedyani, Antropologi Kontemporer; Suatu Pengantar Kritis Mengenai Paradigma, Jakarta : Prenada Media Cetakan ke-1, Agustus 2005,

Koentjaraningrat, Atlas Etnografi Sedunia, Jakarta : Dian Rakyat, 1969

------------ , Pengantar Ilmu Antropologi, Jakarta : Aksara Baru, cet. Ke-5, 1985

------------ , Sejarah Teori Antropologi II, Jakarta : UI-Press, 1990

------------, Masalah Kesukubangsaan dan Integrasi Nasional, Jakarta : UIP, 1993

Koentjaraningrat (Ed), Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, Jakarta Djambatan, cet. Ke-4, 1979

-----------, (Ed.) Masyarakat Desa di Indonesia, Jakarta LPFE-UI, 1984



[1] Paling tidak saya menemukan beberapa judul karya beliau _baik sebagai penulis tunggal atau sebagai editor_ yang ada di perpustakaan FIB UGM antara lain : Pengantar Ilmu Antropologi (cet. Kelima, 1985), Masyarakat Desa di Indonesia (cet. Kedua 1984), Manusia dan Kebudayaan di Indonesia (cet. Keempat, 1979), Masalah Kesukubangsaan dan Integrasi Nasional (1993), Metode-metode Penelitian Masyarakat (cet. Ketiga,1980), Sejarah Teori Antropologi I &II, Atlas Etnografi Sedunia (1969).

Mazhab San'ah

Mazhab San’ah Pada Masa Dinasti Bani Abbasiyah

Fuad Munajat

Abstrak

Perkembangan sastra Arab mengalami beberapa fase yang mengahantarkannya pada bentuk sastra hingga kini. Di antara fase yang cukup memberi pengaruh yang cukup menonjol adalah fase Dinasti Bani Abbasiyyah. Hal ini tidak hanya dikarenakan mulai bercampurnya kebudayaan Islam dengan kebudayaan non-Islam tetapi juga dikarenakan faktor internal berupa kreasi dan inovasi yang muncul dari para sastrawan Arab yang telah sampai pada tahap kematangan dan kesiapan dalam memproduksi karya-karya yang genuin dari tangan mereka.

Kata Kunci : Sastra, Arab, Mazhab san’ah

Prolog

Dalam perkembangan sastra dikenal adanya aliran-aliran yang menandai orientasi yang dominan pada masa karya-karya tersebut tercipta. Waluyo_ dalam bukunya Teori dan Apresiasi Puisi_ menegaskan bahwa sebuah aliran sastra menjadi mode suatu zaman dan biasanya diikuti oleh sebagian besar pujangga atau sastrawan zaman itu. Lebih jauh ia menjelaskan bahwa aliran sastra juga dapat menjadi ciri karakteristik karya sastra pada masa itu sehingga melalui penafsiran terhadap lambang, kiasan, pemilihan kata, ungkapa-ungkapan tertentu dapat ditentukan pemahaman kita terhadap suatu karya (Waluyo, 1987 : 32).

Dengan demikian pengetahuan mengenai aliran suatu masa tertentu memiliki urgensi yang sangat besar terlepas dari pandangan mutakhir mengenai estetika resepsi yang sudah melepaskan karya dari pengarangnya atau dengan ungkapan yang lebih tegas pengarang telah mati.

Terkait dengan poin terakhir sebenarnya karya sastra Arab memiliki karakter yang unik dibandingkan dengan karya sastra dari belahan dunia lainnya. Sejak dari masa permulaan ktritikus Arab senantiasa mengedepankan pendekatan romantik ketika berhadapan dengan karya sastrawan mereka. Ini terbukti dengan adanya penyebutan biografi setiap sastrawan pada saat ingin melakukan kajian terhadap puisi mereka.

Buku-buku Syauqi Dlaif mengenai sastra Arab dengan berbagai cabangnya baik sejarah, teori maupun kritik sastra mewarnai khazanah pemikiran sastra Arab terutama pada pertengahan abad yang lalu. Melalui karya-karya tersebut Dlaif berupaya memetakan sastra Arab dengan beragam genrenya tidak berdasarkan kategorisasi yang telah mapan. Seringkali ia menuangkan gagasan-gagasan liarnya sehingga membuat kita berdecak kagum dengan uraian-uraiannya tersebut.

Salah satu pemikirannya yang cukup unik menurut saya adalah pengklasifikasian mazhab sastra Arab, terutama puisi, ke dalam tiga kategori san’ah, tasnii’ dan tasannu’. Batasan pembahasan ini hanya terletak pada kategori san’ah dan tidak melingkupi kurun waktu Bani Abbasiyah. Dengan demikian, pembahasan tulisan ini hanya mencakup mazhab san’ah pada masa Abbasiyah dan beberapa faktor yang mempengaruhinya. Di samping itu, beberapa tokoh yang mewakili mazhab ini juga ditampilkan.

Klasifikasi mazhab puisi Arab menurut Dlaif

Syauqi Dlaif menggunakan tiga terma untuk memberikan penjelasan mengenai aliran-aliran sastra yang terdapat pada sastra Arab, yakni san’ah, tasnii’ dan tasannu’. Ia lebih jauh sengaja mencari istilah genuin yang sudah digunakan para kritikus Arab tempo dulu.

Sebelumnya para kritikus klasik telah mengelompokkan sastrawan Arab ke dalam dua bagian besar, yakni ashaab thab’i (pemilik bakat) dan ashaab san’ah (mereka yang mencapai kepenyairan lewat upaya keras/ takalluf). Pengelompokkan seperti ini menimbulkan kesan bahwa tiap salah satu dari keduanya merupakan dua kelompok yang tidak pernah bersatu pada diri seseorang. Padahal kenyataannya justru sebaliknya, seorang penyair tidak mungkin hanya mengandalkan bakat kepenyairan tanpa upaya pengasahan bakat tersebut melalui upaya keras (latihan-latihan).

Hal ini mendorong Syauqy Dloif untuk mengajukan klasifikasi baru berkaitan dengan mazhab sastra Arab dalam pembicaraan ini terutama puisi. Dloif mengajukan tiga terma sebagaimana telah saya sebutkan di muka, yakni san’ah, tasnii’ dan tasannu’.

Berikut saya uraikan secara sepintas ketiga mazhab tersebut untuk memudahkan pemahaman.

1. Mazhab san’ah. San’ah adalah upaya keras (juhd) semaksimal mungkin seorang penyair dalam melahirkan karya (Dloif, 1960 : 22 alinea 1), biasanya dikontraskan dengan mathbuu’ (penyair lewat bakat). Mazhab san’ah adalah mazhab pertama yang ditemukan dalam khazanah puisi Arab. Pendapat umum menduga bahwa bidang sastra zaman praislam merupakan lahan yang sangat sederhana dan tidak pernah memuat hal-hal yang sulit. Dugaan ini terbukti salah karena kenyataanya para penyair pada masa praislam justru menyuguhkan seni yang sangat baik dan tidak sederhana sehingga membuktikan kerasnya upaya mereka dalam melahirkan karya-karya. Hal ini tentu disebabkan kepenyairan bagi mereka merupakan suatu bentuk profesi yang mulia dan bahkan terkenal pada masa itu puisi-puisi periodik (hauliyyat/ satu tahunan) yang menegaskan persiapan matang mereka.

2. Mazhab tasnii’. Secara bahasa tasnii’ berarti penghiasan (zukhruf wa tanmiiq). Aliran ini mulai muncul sebagai kecenderungan utama pada abad kedua dan ketiga Hijriyah dalam karya-karya Muslim bin Al-Waliid, Abu Tammaam dan Ibn al-Mu’taz. Meskipun demikian, pada masa ini aliran san’ah juga masih dipegang kuat oleh para penyair besar semisal Basysyar bin Burd, Abu Nuwas, Al-Buhturiy dan Ibn ar-Ruumiy.

3. Mazhab tasannu’. Tasannu’ secara bahasa merupakan upaya keras (takalluf) dalam batasnya yang ekstrim. Istilah ini merupakan potret kehidupan sastra (puisi) pada abad keempat Hijriyah. Pada masa ini penyair mulai menggunakan ‘makna jauh’, di samping menambahkan perhiasan dan ungkapan-ungkapan yang ganjil atau asing bahkan memungut bahan-bahan yang berkaitan dengan tasawuf dan filsafat.

Berkaitan dengan aliran-aliran tersebut, puisi Arab ternyata tidak berbeda dalam makna, tema, matra maupun rima namun perbedaan justru terdapat pada bentuk dan gaya (siyaagat dan uslub).

Ketiga aliran tersebut dapat juga dianggap sebagai penanda fase yang dilalui puisi Arab. Pada awalnya mazhab san’ah mendominasi, kemudian dilanjutkan mazhab tasnii’ dan terakhir diikuti mazhab tasannu’. Setelah mazhab yang terakhir ini para penyair mengalami semacam kemandegan yang menyebabkan belum lagi muncul mazhab atau aliran baru.

Beberapa faktor yang memengaruhi aliran san’ah pada masa Abbasiyah

1. Syu’ubiyyah (fanatisme kesukuan)

Kejatuhan dinasti Umayyah merupakan blessing in disguise (rahmat di balik malapetaka) dalam sejarah perkembangan umat Islam. Tentu saja hal ini bisa didiskusikan lebih jauh tergantung dari sudut pandang mana kita melihat. Bagi suku bangsa Arab kejatuhan ini merupakan pukulan telak yang mengakhiri dominasi suku tersebut selama beberapa abad. Bagi sebagian suku Arab (kelompok Alawiyyin) dan bangsa Persia kejatuhan ini merupakan berkah yang telah ditunggu-tunggu dikarenakan kebijakan dinasti Umayyah yang sangat ‘Arabis sentris’ sehingga menimbulkan kecemburuan.

Sejak masa dinasti bani Umayyah puisi-puisi yang berbau primordial banyak diintrodusir untuk mengagungkan klan masing-masing. Di antaranya puisi Basysyar bin Burd sebagai berikut :

هل من رسول مخبر # عني جميع العرب

بأنني ذو حسب # عالٍ على ذي الحسب

جدي الذي أسمو به # كسرى ، و ساسان أبي

و قيصرُ خالى إذا # عددت يوما نسبي

(Dloif, 1960 : 98)

Nampak sekali betapa Basysyar sangat mengagung-agungkan trahnya yang berasal dari keturunan dinasti besar di Persia. Masa dinasti Abbasiyah ditandai dengan pemerintahan bangsa Persia dengan keluarga Barmak sebagai perdana menteri beberapa generasi.

2. Kecenderungan bersenda gurau

Dalam hal ini patut ditekankan bahwa wilayah penaklukan bangsa Arab berasal dari Area yang sudah memiliki akar kebudayaan lebih tua dan lebih tinggi tingkat peradabannya. Sebagian besar merupakan daerah yang sebelumnya berada di bawah kekuasaan Bizantium.

Dloif menyatakan bahwa bangsa Arab mengenal hiburan (dalam arti negative) pada abad ketiga yakni pada saat bangsa Persia mendapatkan kebebasan yang sangat besar. Pendapat ini tentu masih dapat diperdebatkan karena cukup tendensius. Lebih jauh Dloif mengatakan bahwa pada masa itu minuman keras dan biduanita bertebaran di semua tempat sehingga mempengaruhi puisi Arab baik dari sisi makna maupun matranya (Dloif, 1960 : 100). Di antara para penyair yang banyak bergumul dengan kebiasaan buruk ini adalah Abu Nuwas, Hussain bin Ad-Dlahhaak dan Abul ‘Ataahiyah.

Kebiasaan bergumul dengan minuman keras terekam dalam puisi Abu Nuwas berikut ini :

و خذ ها إن أردت لذيذ عيش # و لا تعدل خليلي بالمدامٍ

و إن قالوا حرام قل حرام # و لكن اللذاذة فى الحرام

(Dlaif :106)

3. Kezindikan dan kezuhudan

Kalau kita mengikuti alur berpikir Dloif, kita akan sampai pada pendapatnya yang menyatakan bahwa semua hal-hal buruk yang terjadi pada dunia Islam berasal dari kebudayaan Persia yang materialistis dan mencemari kemurnian Islam yang sebelumnya terjaga. Berulang kali saya menegaskan bahwa pendapat semacam ini masih dapat diperdebatkan karena sebenarnya setiap kebuyaan manapun pada saat berada pada puncaknya akan berhadapan dengan fenomena-fenomena yang amat ambigu.

Hal ini menurut hemat saya karena semua hal yang berada di puncak akan mudah tergoda untuk menjelajahi pengalaman dan fenomena baru yang tidak atau belum dilihat oleh pihak lain yang belum sampai pada fase tersebut dan bukan karena kebudayaan tertentu yang menurut preasumsi kita sudah dinilai buruk!

Demikian halnya dengan persoalan zindik, Dloif menyatakan bahwa Persialah tempat ajaran ini berasal. Persoalan zindik juga tidak terlepas dari makin luasnya daerah penaklukan Islam yang mengakibatkan banyaknya paham baru yang sebelumnya belum dikenal dalam Islam.

Puisi yang berkisah tentang perihal kezindikan di antaranya adalah sebagaimana tertera berikut ini :

إبليس أفضل من أبيكم آدم # فتنيهوا يا معشر الفجار

النار عنصره و آدم طينة # و الطين لا يسمو سمو النار

(Dlaif :112)

Sementara persoalan zuhud juga merupakan kecenderungan utama yang muncul akibat pertikaan politik yang berujung pada tajamnya perbedaan teologis dan memacu sebagian orang untuk meninggalkan segala perdebatan dan memilih jalan asketik yang merupakan awal dari kemajuan tasawuf. Adapun contoh puisi yang bertema zuhud adalah sebagai berikut :

رأيت صلاح المرء يصلح أهله # و يعديهم داء الفساد إذا فسد

يعظم فى الدنيا بفضل صلاحه # و يحفظ بعد الموت فى الأهل و الولد

(Dloif : 117)

4. Hubungan kebahasaan

Pada masa dinasti Abbasiyah pusat kota berpindah dari Dameskus ke Baghdad. Kota yang disebut terakhir ini menjadi tempat bertemunya berbagai bangsa dengan latar kebahasaan yang beragam. Dengan mudah dapat dipahami bahwa orang-orang yang bukan penutur asli bahasa Arab pada gilirannya mengalami kesulitan dalam mengucapkan kata-kata maupun ungkapan bahasa Arab.

Hal ini juga memengaruhi karya-karya yang diciptakan para penyair yang bukan penutur asli bahasa Arab. Sehingga sering kali ditemukan adanya perbedaan misalnya dari sisi fonetik seperti pengucapan makharijul huruf yang tidak semestinya dan berpengaruh pada penulisannya dalam puisi.

5. Hubungan kebudayaan

Pusat-pusat kebudayaan yang sebelumnya berada di bawah kekuasaan Bizantium berangsur-angsur berpindah ke tangan kaum muslimin. Mulai dari Jundisapur, Harraan, Antiokh, maupun Iskandariyah. Kesemuanya itu memiliki perpustakaan-perpustakaan ternama yang menyimpan kekayaan pengetahuan yang tidak berapa lama kemudian dialihaksarakan ke dalam bahasa Arab dan pada akhirnya mengubah kebudayaan kaum muslimin menjadi lebih maju. Hal ini bisa dilihat dari keberadaan baitul hikmah milik al-Makmun.

Utsman Hawafi memberikan penjelasan berbeda mengenai munculnya feature baru dalam perpuisian Arab. Ia tidak menggunakan istilah san’ah sebagaimana Dlaif tetapi jika diperhatikan keterangan mengenai feature baru puisi Arab pada masa Abbasiyah awal maka tokoh-tokoh maupun puisi yang dimaksud sama dengan keterangan Dlaif. Dengan demikian uraian Hawafi saya kutip guna menegaskan kemunculan san’ah atau feature baru dalam syi’ir.

Menurut Hawafi paling tidak ada tiga faktor yang mendorong munculnya feature baru syi’ir masa Abbasiyah awal. Ketiga faktor tersebut adalah adanya friksi social, munculnya sekte keagamaan dan terakhir intensnya gerakan penerjemahan (Hawafi : 22). Faktor-faktor sebagaimana tersebut di atas terejawantah dalam empat fenomena dominant pada masa itu yakni (i) system politik Daulat Abbasiyah yang berbeda dengan system politik pada masa sebelumnya; (ii) gerakan politik primordial (iii) kebiasaan-kebiasaan asing (bagi masyarakat Arab pada umumnya); (iv) Adanya orientasi dan kecenderungan asing. Jelas sekali apa yang disebutkan Hawafi sejatinya setali tiga uang dengan keterangan Dlaif namun dalam redaksi dan penekanan yang berbeda.

Nampak dari paparan Hawafi adanya persamaan pemikirannya dengan pemikiran Dlaif misalnya pada perwujudan faktor-faktor pada poin (i) dan (ii) yang dalam bahasa Dlaif disebut dengan fanatisme syu’ubiyyah. Intinya memang ada pergeseran kekuatan yang menopang Daulat Islamiyyah kala itu dari tangan orang Arab ke tangan orang Persia sehingga persaingan di antara keduanya juga sebagian besar terekam pada karya sastra dalam hal ini puisi.

Sedangkan perwujudan poin (iii) dan (iv) sejatinya juga terdapat dalam faktor yang disebutkan Dlaif yakni ketika ia menyebut adanya hubungan kebudayaan karena biasanya kebudayaan, meskipun tidak seluruhnya, dibatasi dengan perbedaan bahasa sehingga muncul istilah asing dan genuin. Adapun poin ke-2 dan ke-3 dari faktor yang disebut Dlaif lebih terlihat sebagai akibat ketimbang faktor sehingga Hawafi tidak menyebutnya sebagai sesuatu yang patut diperhitungkan meskipun dalam uraian lengkapnya Hawafi juga memberikan uraian singkat tentang keduanya.

Masa kejayaan mazhab san’ah

Perkembangan puisi pada abad kedua dan ketiga maupun relasi barunya dengan lingkungan yang lebih heterogen memberikan pengaruh yang cukup signifikan bagi puisi Arab. Sebagaimana halnya pengaruh kebudayaan Persia sebagai pemegang sesungguhnya kekuasaan dengan segala latar budayanya, Dloif secara khusus menyebut budaya hiburan (dalam arti negative), sangat mewarnai keberadaan puisi Arab saat itu. Sehingga dapat dikatakan bahwa puisi Arab memasuki babak baru, babak yang sebenarnya dalam banyak hal masih melestarikan kekayaan masa lampaunya.

Keberadaan puisi pujian (madah), dan elegi (ritsa) lebih dekat pada bentuk masa lampaunya ketimbang perkembangan puisi gazal, khamar dan mujuun (senda gurau) yang memang sangat menjamur pada masa ini. Dari sisi makna mereka memanfaatkan pengetahuan yang saat itu meningkat sangat pesat. Sementara dari sisi bentuk mereka banyak membuat matra-matra baru akibat pengaruh pendendangan dan alat musik. Di samping itu mereka melakukan inovasi pada penggunaan matra penggalan (majzuu’aat)( Dloif, 1960 :146).

Dalam kesempatan yang berbeda Dlaif juga menekankan bahwa puisi gazal, khamriyyat dan mujun bukanlah semata fenomena pada masa Bani Abbasiyah namun gejalanya sudah tampak pada masa pemerintahan Bani Umayyah. Pada masa yang disebut terakhir ini sudah terdapat puisi-puisi tentang khamar hasil pujangga al-Walid ibn Yazid atau puisi gazal sebagimana banyak dihasilkan oleh Ibn Abi Rabi’ah (Dlaif, 1952 : At-Tathowwur wa at-Tajdid fi asy-Syi’ri al-Umawiy, 8-9). Perbedaan yang mungkin dapat dikemukakan adalah intensitas penggubahannya yang sangat pesat pada masa Abbasiyah di samping adanya ekstrimitas yang sangat mencengangkan berkaitan dengan materi teks yang meluas sampai tema-tema yang sangat tabu pada masa tersebut bahkan bisa jadi bertentangan dengan norma kemanusiaan sepanjang masa seperti gazal terhadap sesame jenis (al-gazal bi al-mudzakkar). Hampir semua pujangga pada masa ini memiliki karya pada genre tersebut mulai dari Abu Nuwas, Hussain ibn al-Dlahhak, Abu Tammam, Ibn al-Mu’taz, Abdullah ibn Abbas ibn al-Fadl sampai dengan Ibn al-Rumiy. Berikut kutipan syi’ir dengan genre al-gazal bi al-mudzakkar hasil gubahan Abdullah bin Abbbas ibn al-Fadl sebagaimana dikutip Hawafi halaman 285 :

و شادن ما رأت عيني له شبها # فى الناس عجما و لا عربا

إذا بدا مقبلا، نادت وا طربا # و ان مضى معرضا ناديت وا حربا

(Hawafi, tt. : 285)

Beberapa tokoh mazhab san’ah

Berikut saya cantumkan beberapa tokoh penting mazhab san’ah pada masa dinasti bani Umayyah

1. Basyar ibn Burd

Nama lengkapnya Basyar ibn Burd ibn Yarjuukh. Ia dilahirkan di Bashrah pada decade akhir abad pertama Hijriah. Kakeknya Yarjuukh merupakan penguasa Khurasan dan karena itu sejak kecil ia hidup dengan kecukupan. Sementara ibunya merupakan keturunan bangsa Romawi.

Penyair berdarah Persia-Romawi ini mendasarkan puisi-puisinya atas perbandingan yang amat rinci antara unsur-unsur tradisional puisi Arab masa lampau dengan unsur-unsur baru yang digali dari kebudayaan dan pengetahuan yang ada pada masanya. Metode yang digunakannya menjadi acuan bagi penyair-penyair setelahnya yang berupaya mengembangkan puisi Arab tanpa memutuskan hubungannya dengan tradisi lampaunya (Dloif, 1960 : 157).

Hal yang paling menonjol pada diri Basyar adalah kepionirannya dalam pembaharuan syi’ir Arab dengan usahanya menciptakan karya-karyanya dalam bentuk ruba’iyyat, muzdawij dan musammathat namun tetap menggunakan bahasa yang fasih.

2. Abu Nuwas

Abu Nuwas hidup pada saat kebudayaan Persi sudah sangat dalam pengarunya terhadap kehidupan masa Daulat Abbasiyah. Nama lengkapnya Abu Nuwas al-Hasan ibn Hani. Sama halnya dengan Basyar, Abu Nuwas memiliki trah Persi baik dari pihak ayah maupun ibunya.

Sebagaimana telah dikutip di atas Abu Nuwas terkenal sebagai penyair Khomriyat yang paling unggul. Ia juga terkenal dengan kepenyairan dalam gazal. Bahkan di tangannya ekstrimitas gazal terjadi yakni al-gazal bi al-mudzakkar sebagaimana terekam dalam puisi berikut :

و من عجب لعشقهم الـ # ـجفاة الجلـف و الصحرا

فقيل مرقش أودى # و لم يعجز و قد قدرا

(Hawafi, tt. : 284)

Abu Nuwas senantiasa menyandarkan puisi-puisinya pada pola lama dalam puisi pujian (madah), elegi (ritsa) dan yang senafas dengan keduanya. Sementara itu ia terkadang masih memakai pola lama pada puisi gazal dan khomriyaatnya, dengan struktur dan deskripsi yang sangat menawan serta dibarengi emosi yang sangat menyentuh (Dloif, 1960 :163-164). Dalam kesempatan lainnya Dlaif juga memberi keterangan bahwa Abu Nuwas memang memiliki dua kecenderungan dalam menggubah puisi. Kecenderungan pertama adalah kenderungan mempertahankan konvensi yang lebih banyak terdapat pada madah, ritsa dan arajiznya. Sedangkan kecenderungan kedua adalah inovasi yakni pada hija, gazal dan khamriyatnya (Dlaif, 1966 : 227).

Dengan demikian inovasi yang dilakukan Abu Nuwas lebih banyak digunakannya dalam mengekspresikan hasrat-hasrat dalam pengertian yang negative sedangkan untuk hal-hal yang agak sesuai norma social ia lebih memilih mengikuti konvensi.

3. Abul ‘Ataahiyah

Nama lengkapnya Abul Atahiyah Ismail ibn al-Qasim ibn Suwaid ibn Kaisan. Ia dilahirkan di dekat kota Anbar pada tahun 130 H. Kehidupannya dapat dibagi dalam dua fase yang menandai transformasi spiritualnya. Fase pertama meliputi seluruh masa yang menampakkan dirinya sebagai pujangga yang penuh gejolak aura negative. Hal ini terekam dalam puisi-puisinya yang bertema gazal dan khamar seperti puisi di bawah ini :

لهفي على الزمن القصير # بين الخورنق و السدير

إذ نحن فى غرف الجنا # ن نعوم فى بحر السرور

فى فتية ملكوا عنا # ن الدهر أمثال الصقور

(Dlaif Tarikh, 1966 : 247)

Sedangkan fase kedua dalam transformasi kehidupan spiritualnya tercermin dalam puisi berikut ini :

إلهي لا تعذبني فإنني # مقر بالذي قد كان مني

و مالي حيلة إلا رجائ # لعفوك إن عفوت و حسن ظني

(Dlaif, 1966 : 251)

Puisi-puisi Abul ‘Atahahiyah ditandai dengan kemudahan pemilihan kata-kata dan ungkapan, sehingga terkadang mendekati ungkapan bahasa sehari-hari. Namun demikian kata-kata yang digunakannya tidak sampai pada kata ‘ajamiy hanya saja lebih dekat dengan bahasa khalayak. Pola inilah yang digunakan dalam membuat puisinya (Dloif, 1960 : 171-172).

Hal yang menarik berkaitan dengan kesan’ah-an Abul ‘Atahiyah adalah keberanianya untuk menentang Arudh yang telah dikemas Al-Khalil ibn Ahmad Al-Farahidi. Sebuah riwayat menceritakan suatu kali Abul Atahiyah pernah ditanya mengenai puisi-puisinya yang menyimpang dari paken arudh, ia menjawab Ana akbaru min al-‘arudh (saya lebih besar dari Arudh) (Hawafi, tt. : 253).

Epilog

Berdasarkan uraian di atas saya ingin memberikan benang merah berkaitan dengan gagasan san’ah yang dicetuskan Dlaif. Benang merah ini bukan berarti kesimpulan namun lebih tepatnya tinjauan terhadap semua hal yang tertera di atas.

  1. Pengkategorian mazhab puisi Arab menjadi san’ah, tasni’ dan tasannu’ sebagaimana diusulkan Dlaif merupakan hal baru yang dalam kajian puisi Arab dan dapat disebut sebagai pemakadam jalan bagi kajian mazhab puisi Arab yang genuin.
  2. Senada dengan Dlaif, Hawafi juga memberikan uraian yang mendukung uraian Dlaif meskipun tidak secara eksplisit menyebut pengarusan pemikirannya terhadap pemikiran Dlaif namun berdasarkan keterangannya ia banyak mengutip Dlaif.
  3. Kesan’ah-an penyair pada masa Bani Abbasiyah bukan lahir tanpa pendahulu namun demikian apa yang terjadi pada diri mereka merupakan wakil masanya sendiri dan memang belumpernah terjadi pada pendahulu mereka. Secara umum puisi Arab memang tidak mengalami pergeseran yang cukup signifikan berkaitan dengan bentuknya namun lebih banyak terjadi pergewseran pada isinya.
  4. Meskipun tidak banyak terjadi pergeseran bentuk namun paparan di atas merekam setidaknya terdapat juga pergeseran bentuk sebagaimana pola-pola seperti muzdawij, musammmat, urjuzah mulai digunakan sampai dengan yang paling jauh pernyataan Abul Atahiyah yang menentang pakem al-Khalil dengan perkataannya Ana akbaru min al-‘arudl

Daftar Pustaka

Dloif, Syauqi, al-Fann wa Mazaahibuh; Fii al-Syi’ri al-‘Arabiy, Daar al-Ma’aarif, 1960

--------------, at-Tathawwur wa at-Tajdid Fii al-Syi’ri al-‘Arabiy, Daar al-Ma’aarif,1952

--------------, Tarikh al-Adab al-Arabiy; al-Ashr al-Abbasiy al-Awwal, ,Daar al-Ma’aarif, cet. Ke-71966

Hawafi, Utsman, at-Tayyaaraat al-Ajnabiyyah Fii al-Syi’ri al-‘Arabiy; Muassasat ats-Tsaqafat al-Jaami’iyyah, Iskandariyah, tt.

Waluyo, Herman J., Teori dan Apresiasi Puisi,Erlangga, Jakarta, 1987